BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Kangkung merupakan salah satu tanaman holtikultura sayuran yang sangat di gemari oleh masyarakat Indonesia, selain rasanya yang gurih, tanaman kangkung mudah didapat di pasar tradisional dan cara mengolahnya mudah. Selain itu tanaman kangkung juga cocok di tanam di daerah dataran rendah maupun dataran tinggi.

Kangkung merupakan tanaman semusim dan berumur pendek. Berasal dari India yang kemudian menyebar ke Malaysia, Burma, Indonesia, China Selatan Australia dan bagian negara Afrika. Kangkung disebut juga Swamp cabbage, Water convovulus, Water spinach. Kangkung selain rasanya enak juga memiliki kandungan gizi cukup tinggi, mengandung vitamin A, B dan vitamin C serta bahan-bahan mineral terutama zat besi yang berguna bagi pertumbuhan badan dan kesehatan. Seorang pakar kesehatan Filipina Herminia de Guzman Ladion memasukkan kangkung dalam kelompok tanaman obat, sebab berkhasiat untuk penyembuh penyakit sembelit juga sebagai obat yang sedang diet. Selain itu, akar kangkung berguna untuk obat penyakit wasir.

Usaha budidaya tanaman kangkung di Indonesia semakin meningkat. Hal ini disebabkan kebutuhan pasar akan sayur kangkung dari tahun ke tahun terus meningkat yang dikarenakan adanya peningkatan variasi makanan dan usaha rumah tangga yang menggunakan sayur kangkung sebagai bahan bakunya.

Prospek pemasaran kangkung sekarang ini sangat menjanjikan baik dalam memenuhi kebutuhan dalam negeri maupun untuk ekspor. Sehingga di Irian Jaya tepatnya Kecamatan Muting Kabupaten Merauke kangkung merupakan lumbung hidup sehari-hari bagi masyarakat. Di Kecamatan Darussalam Kabupaten Aceh Besar tanaman kangkung darat banyak ditanam penduduk untuk konsumsi keluarga maupun untuk dijual ke pasar. Kangkung darat juga banyak ditanam di Pulau Jawa khususnya di daerah Jawa Barat.

Teknik budidaya tanaman kangkung yang tepat menjadi prioritas utama agar mendapat hasil yang optimal dengan kualitas yang baik. Untuk meningkatkan produksi dapat dilakukan secara intensifikasi dan ekstensifikasi.

 

Adapun tujuan dari praktikum ini adalah :

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB II

LANDASAN TEORI

 

Kangkung tergolong sayur yang sangat populer, karena banyak peminatnya. Kangkung disebut juga Swamp cabbage, Water convovulus, Water spinach. Berasal dari India yang kemudian menyebar ke Malaysia, Burma, Indonesia, China Selatan Australia dan bagian negara Afrika.

Kangkung banyak ditanam di Pulau Jawa khususnya di Jawa Barat, juga di Irian Jaya di Kecamatan Muting Kabupaten Merauke kangkung merupakan lumbung hidup sehari-hari. Di Kecamatan Darussalam Kabupaten Aceh Besar tanaman kangkung darat banyak ditanam penduduk untuk konsumsi keluarga maupun untuk dijual ke pasar.

2.2  Jenis Tanaman

Kangkung termasuk suku Convolvulaceae (keluarga kangkung-kangkungan). Kedudukan tanaman kangkung dalam sistematika tumbuh-tumbuhan diklasifikasikan ke dalam:
a) Divisio : Spermatophyta
b) Sub-divisio : Angiospermae
c) Kelas : Dicotyledonae
d) Famili : Convolvulaceae
e) Genus : Ipomoea
f) Species : Ipomoea reptans

Kangkung (Ipomoea sp.) dapat ditanam di dataran rendah dan dataran tinggi.. Kangkung merupakan jenis tanaman sayuran daun, termasuk kedalam famili Convolvulaceae. Daun kangkung panjang, berwarna hijau keputih-putihan merupakan sumber vitamin pro vitamin A. Berdasarkan tempat tumbuh, kangkung dibedakan menjadi dua macam yaitu: 1) Kangkung darat, hidup di tempat yang kering atau tegalan, dan  2) Kangkung air, hidup ditempat yang berair dan basah.

Petanian Organik adalah sebuah bentuk solusi baru guna menghadapi kebuntuan yang dihadapi petani sehubungan dengan maraknya intervensi barang-barang sintetis atas dunia pertanian sekarang ini. Dapat dilihat, mulai dari pupuk, insektisida, perangsang tumbuh, semuanya telah dibuat dari bahan-bahan yang disintesis dari senyawa-senyawa murni (biasanya un organik) di laboratorium. Pertanian organik dapat memberi perlindungan terhadap lingkungan dan konservasi sumber daya yang tidak dapat diperbaharui, memperbaiki kualitas hasil pertanian, menjaga pasokan produk pertanian sehingga harganya relatif stabil, serta  memiliki orientasi dan memenuhi kebutuhan hidup ke arah permintaan pasar.

2.3 Syarat Pertumbuhan

2.2.1) Iklim

Tanaman ini dapat tumbuh dengan baik sepanjang tahun. Kangkung darat dapat tumbuh pada daerah yang beriklim panas dan beriklim dingin

 

Jumlah curah hujan yang baik untuk pertumbuhan tanaman ini berkisar antara 500-5000 mm/tahun. Pada musim hujan tanaman kangkung pertumbuhannya sangat cepat dan subur, asalkan di sekelilingnya tidak tumbuh rumput liar. Dengan demikian, kangkung pada umumnya kuat menghadapi rumput liar, sehingga kangkung dapat tumbuh di padang rumput, kebun/ladang yang agak rimbun.

Tanaman kangkung membutuhkan lahan yang terbuka atau mendapat sinar matahari yang cukup. Di tempat yang terlindung (ternaungi) tanaman kangkung akan tumbuh memanjang (tinggi) tetapi kurus-kurus. Kangkung sangat kuat menghadapi panas terik dan kemarau yang panjang. Apabila ditanam di tempat yang agak terlindung, maka kualitas daun bagus dan lemas sehingga disukai konsumen.

Suhu udara dipengaruhi oleh ketinggian tempat, setiap naik 100 m tinggi tempat, maka temperatur udara turun 1 derajat C. Apabila kangkung ditanam di tempat yang terlalu panas, maka batang dan daunnya menjadi agak keras, sehingga tidak disukai konsumen.

2.2.2) Media Tanam

Kangkung darat menghendaki tanah yang subur, gembur banyak mengandung bahan organik dan tidak dipengaruhi keasaman tanah.

Tanaman kangkung darat tidak menghendaki tanah yang tergenang, karena akar akan mudah membusuk. Sedangkan kangkung air membutuhkan tanah yang selalu tergenang air.

Tanaman kangkung membutuhkan tanah datar bagi pertumbuhannya, sebab tanah yang memiliki kelerengan tinggi tidak dapat mempertahankan kandungan air secara baik.

2.2.3)  Ketinggian Tempat

Kangkung dapat tumbuh dan berproduksi dengan baik di dataran rendah sampai dataran tinggi (pegunungan) ± 2000 meter dpl. Baik kangkung darat maupun kangkung air, kedua varietas tersebut dapat tumbuh di mana saja, baik di dataran rendah maupun di dataran tinggi. Hasilnya akan tetap sama asal jangan dicampur aduk.

2.4 Teknologi Budidaya

2.3.1) Benih

Kangkung darat dapat diperbanyak dengan biji. Untuk luasan satu hektar diperlukan benih sekitar 10 kg. Varietas yang dianjurkan adalah varietas Sutra atau varietas lokal yang telah beradaptasi.

2.3.2) Persiapan Lahan

Lahan terlebih dahulu dicangkul sedalam 20-30 cm supaya gembur, setelah itu dibuat bedengan membujur dari Barat ke Timur agar mendapatkan cahaya penuh. Lebar bedengan sebaiknya adalah 100 cm, tinggi 30 cm dan panjang sesuai kondisi lahan. Jarak antar bedengan  + 30 cm. Lahan yang asam (pH rendah) lakukan pengapuran dengan kapur kalsit atau dolomit.

2.3.3) Pemupukan

Bedengan diratakan, 3 hari sebelum tanam diberikan pupuk kandang (kotoran ayam) dengan dosis 20.000 kg/ha atau pupuk kompos organik hasil fermentasi (kotoran ayam yang telah difermentasi) dengan dosis 4 kg/m2. Sebagai starter ditambahkan pupuk anorganik 150 kg/ha Urea (15 gr/m2) pada umur 10 hari setelah tanam. Agar pemberian pupuk lebih merata, pupuk Urea diaduk dengan pupuk organik kemudian diberikan secara larikan disamping barisan tanaman, jika perlu tambahkan pupuk cair 3 liter/ha (0,3 ml/m2) pada umur 1 dan 2 minggu setelah tanam.

2.3.4) Penanaman

Biji kangkung darat ditanam di bedengan yang telah dipersiapkan. Buat lubang tanam dengan jarak 20 x 20 cm, tiap lubang tanamkan 2 – 5 biji kangkung. Sistem penanaman dilakukan secara zigzag atau system garitan (baris).

2.3.5) Pemeliharaan

Yang perlu diperhatikan adalah ketersediaan air,  bila  tidak  turun  hujan  harus  dilakukan penyiraman. Hal lain adalah pengendalian gulma waktu tanaman masih muda dan menjaga tanaman dari serangan hama dan penyakit.

2.3.6) Pengendalian Organisme Pengganggu Tumbuhan (OPT)

Hama yang menyerang tanaman kangkung antara lain ulat grayak (Spodoptera litura F), kutu daun (Myzus persicae Sulz) dan Aphis gossypii. Sedangkan penyakit antara lain penyakit karat putih yang disebabkan oleh Albugo ipomoea reptans. Untuk pengendalian, gunakan jenis pestisida yang aman mudah terurai seperti pestisida biologi, pestisida nabati atau pestisida piretroid sintetik. Penggunaan pestisida tersebut harus dilakukan dengan benar baik pemilihan jenis, dosis, volume semprot, cara aplikasi, interval dan waktu aplikasinya.

2.3.7) Panen

Panen dilakukan setelah berumur  + 30 hari setelah tanam, dengan cara mencabut tanaman sampai akarnya atau memotong pada bagian pangkal tanaman sekitar   2 cm di atas permukaan tanah.

2.3.8) Pasca Panen

Pasca panen terutama diarahkan untuk menjaga kesegaran kangkung, yaitu dengan cara menempatkan kangkung yang baru dipanen di tempat yang teduh atau merendamkan bagian akar dalam air dan pengiriman produk secepat mungkin.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB III

METODOLOGI PRAKTIKUM

 

 

3.1.1 Tempat praktikum

Adapun tempat praktikum dilakukan  di Lahan Pertanian Sayuran Organik Universitas Jambi.

3.1.2 Waktu

Praktikum ini dilakukan pada tanggal 1 April – 20 Mei 2013.

Melalui tahap :

Persiapan lahan    : 1 April 2013

Pengolahan lahan: 8 April 2013

Penanaman           : 22 April 2013

Pengukuran           : 6 Mei 2013, 13 Mei , 20 Mei 2013

Pemanenan           : 20 Mei 2013

 

 

Adapun alat yang digunakan dalam praktikum ini adalah :

 

 

 

 

 

 

Adapun bahan yang digunakan dalam praktikum ini adalah :

 

 

 

 

 

 

 

Lahan yang akan digunakan untuk praktikum di ukur sesuai ukuran yang di butuhkan. Lahan di ukur dengan menggunakan meteran dan membuat patokan tali sebelum di olah.

 

 

Lahan yang telah dipersiapkan dibersihkan dari gulma yang ada, lahan di bagi ke dalam beberapa petakan , setiap petakan berukuran  2mx1,5m. Dan agar tidak terjadinya erosi maka di buat parit dengan ukuran 50 cm. Masing masing kelompok menggemburkan tanah nya dengan menggunakan cangkul. Tanah yang telah di olah di diamkan selama seminggu kemudian di berikan pupuk kandang 3 kg.

 

Penanaman kangkung darat dilakukan pada sore hari yaitu jam 16.00 sampai 18.00. Hal ini bertujuan agar benih setelah ditanam tidak langsung mendapat udara kering sehingga benih cepat berkecambahBenih kangkung darat dipilih sesuai dengan prosedur untuk ditanam. Jarak tanam di ukur 25 cm x 25 cm dengan menggunakan penggaris. Pada bedengan di buat lubang sesuai jarak tanam yang di ukur. Tiap lubang tanam diisi 2  biji kangkung darat.

 

Penyiangan dilakukan bila terdapat rumput liar (tanaman pengganggu). Gulma yang ada di cabut agar tidak mengganggu tanaman kangkung. Penyiangan dilakukan setiap minggu.

 

Selama tidak ada hujan, perlu dilakukan penyiraman. Penyiraman gunanya untuk mencegah tanaman kangkung terhadap kekeringan. Penyiraman dilakukan pada sore hari yaitu pada pukul 17.00 WIB. Penyiraman dilakukan dengan gembor penyiram. Tanaman kangkung membutuhkan banyak air dalam pertumbuhannya.

 

 

Dipilih 4 tanaman untuk digunakan sebagai sampel untuk pengamatan.Selama praktikum dilakukan pengamatan tinggi daun, jumlah daun, Pengamatan ini dilakukan 2 minggu sebelum dipanen. Kemudian hasil dari pengukuran tersebut dirata – rata kan.

 

Pemanenan dilakukan pada sore hari pada minggu ke 5 setelah penanaman. Cara pemanenan dilakukan dengan cara dicabut sampai ke akar tanaman kangkung darat tersebut. Setelah itu, ditimbang berat tanaman sampel dan berat tanaman sampel ditambah ubin.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil

Pengamatan minggu 1

perlakuan

Tinggi tanaman ( cm)

Jumlah

Rata-rata

Ulangan

I

II

III

IV

0 kg

2

6

12,94

7,1

28,04

7,01

3 kg

 8,03

7,7

5

6,74

19,43

6,48

6 kg

8,6

4,8

9,5

6,74

29,61

7,4

9 kg

15,9

14,19

29,78

7

66,84

16,71

12 kg

8

6,4

6,44

12,25

33,06

8,27

15 kg

7,5

6,4

10,94

7,98

32,71

8,18

 

Pengamatan minggu 2

perlakuan

Tinggi tanaman ( cm)

Jumlah

Rata-rata

Ulangan

I

II

III

IV

0 kg

6,76

11,94

21,1

15,8

55,6

13,9

3 kg

18,38

18,5

10,96

19,9

67,75

16,9

6 kg

19,6

14,2

20,13

19,9

73,88

18,47

9 kg

24,1

16,8

36,56

21,3

98,81

24,7

12 kg

18,5

17,13

16,69

20,75

73,06

18,27

15 kg

19,29

20,05

19,12

19,94

78,4

19,6

Pengamatan minggu 3

perlakuan

Tinggi tanaman ( cm)

Jumlah

Rata-rata

Ulangan

I

II

III

IV

0 kg

11,65

16,23

27,1

21,9

76,88

19,22

3 kg

 24,9

22,81

19,69

24,56

67,06

22,35

6 kg

30,75

24,06

40,25

24,56

119,6

29,91

9 kg

28,86

38,13

57,33

24,7

149,01

37,25

12 kg

29

25,87

25,19

35,4

115,46

28,87

15 kg

25,75

30,13

31,13

27

114

28,5

Pengamatan minggu 1

perlakuan

Jumlah daun ( helai)

Jumlah

Rata-rata

Ulangan

I

II

III

IV

0 kg

7,5

7,75

6,9

6,8

28,95

7

3 kg

 7,5

6,63

6,75

9,25

22,63

7

6 kg

7,88

6,63

8,63

8,25

31,38

8

9 kg

24,38

6,5

11,11

7,4

49,39

12

12 kg

7,125

6,25

6

8,5

27,88

7

15 kg

6,75

9,63

7,5

8,25

32,13

8

Ket : “Jlh helai daun diperoleh rai pembulatan”

Pengamatan minggu 2

perlakuan

Jumlah daun ( helai)

Jumlah

Rata-rata

Ulangan

I

II

III

IV

0 kg

9,75

15

9,9

11,3

45,95

11

3 kg

 18,88

11,88

10

16,63

38,5

13

6 kg

10,38

22,5

17,5

15,13

65,5

16

9 kg

26,13

19

 19,33

19,5

64,63

22

12 kg

15,5

8,63

24

13,25

61,38

15

15 kg

14,5

32,25

10,5

15,13

72,38

18

Ket : “Jlh helai daun diperoleh rai pembulatan”

 

Pengamatan minggu 3

perlakuan

Jumlah daun ( helai)

Jumlah

Rata-rata

Ulangan

I

II

III

IV

0 kg

13,13

20,88

10,6

19,7

64,3

16

3 kg

31,88

25,25

19,78

24,5

101,4

25

6 kg

14,4

46,25

32,88

13

106,5

27

9 kg

31,29

27,63

 22,22

26,13

85,04

28

12 kg

42,25

11

26,25

22,88

102,4

26

15 kg

39

45,38

11,75

13

109,13

27

Ket : “Jlh helai daun diperoleh rai pembulatan”

 

Pengamatan berat tanaman

Perlakuan

Berat tanaman ( kg )

jumlah

Rata-rata

Ulangan

I

II

III

IV

0 kg

0,3

0,45

0,5

1,3

2,55

0,6375

3 kg

1,63

1,2

0,75

1,3

4,88

1,22

6 kg

2,3

1,25

1,5

1,6

6,65

1,6625

9 kg

1,65

1,2

3,5

1,9

8,25

2,0625

12 kg

3,1

1,4

1,6

2,51

8,61

2,1525

15 kg

2,2

2,6

2,8

2,3

9,9

2,475

 

Keterangan:

0 Kg = Ulangan 1 (Kelompok 6)                    9 Kg = Ulangan 1 (Kelompok 3)       

            Ulangan 2 (Kelompok 11)                              Ulangan 2 (Kelompok 10)

            Ulangan 3 (Kelompok 15)                              Ulangan 3 (Kelompok 13)

            Ulangan 4 (Kelompok 24)                              Ulangan 4 (Kelompok 21)

3 Kg = Ulangan 1 (Kelompok 1)                    12 Kg=Ulangan 1 (Kelompok 5)

            Ulangan 2 (Kelompok 8)                                Ulangan 2 (Kelompok 9)

            Ulangan 3 (Kelompok 16)                              Ulangan 3 (Kelompok 17)

            Ulangan 4 (Kelompok 20)                              Ulangan 4 (Kelompok 19)

6 Kg = Ulangan 1 (Kelompok 4)                    15 Kg=Ulangan 1 (Kelompok 2)

            Ulangan 2 (Kelompok 7)                                Ulangan 2 (Kelompok 12)

            Ulangan 3 (Kelompok 18)                              Ulangan 3 (Kelompok 14)

            Ulangan 4 (Kelompok 22)                              Ulangan 4 (Kelompok 23)

 

Kangkung (Ipomoea sp.) dapat ditanam di dataran  rendah  dan  dataran  tinggi. Kangkung merupakan jenis tanaman sayuran daun, termasuk kedalam famili Convolvulaceae. Daun kangkung panjang,  berwarna hijau keputih-putihan merupakan sumber vitamin pro vitamin A.  Berdasarkan tempat tumbuh, kangkung dibedakan menjadi dua macam yaitu: 1) Kangkung darat, hidup di tempat yang kering atau tegalan,  dan  2) Kangkung air, hidup ditempat yang berair dan basah.

Pupuk memegang peranan yang penting di dalam budidaya tanaman. Tanaman membutuhkan pupuk yang sesuai untuk memenuhi kebutuhan unsur hara sehingga dapat tumbuh dan berkembang dengan baik. Terdapat beberapa jenis pupuk yaitu pupuk buatan pabrik (anorganik) dan pupuk kandang atau kompos (organik). Pupuk buatan pabrik (anorganik) merupakan pupuk hasil buatan pabrik. Sedangkan pupuk kandang atau kompos adalah pupuk yang dihasilkan dari tumbuh-tumbuhan atau hewan. Pupuk organik mempunyai kandungan hara yang rendah dan dipergunakan untuk kesuburan fisik tanah agar strukturnya menjadi lebih baik. Bokasi termasuk pupuk organik yang dihasilkan dari tumbuh-tumbuhan atau hewan.

Pada praktikum budidaya tanaman kangkung ini, penanaman jenis kangkung darat ditanam di lahan kering. Sebelum kangkung ditanam, 2 minggu sebelumnya dilakukan pengolahan lahan

Pada praktikum kali ini, penanaman jenis kangkung darat ditanam di lahan lahan kering. Sebelum menanam kangkung, tiga minggu sebedan perberian pupuk kandang denagn mencampur secara merata. Tanah di campur dengan pupuk kandang sesuai yang telah di tentukan yaitu 3 kg , 6 kg , 9 kg, 12 kg dan 15 kg terhadap bedengan yang telah diolah. Dan ada juga yang tidak menggunakan pupuk kompos.

Dari hasil pengamatan , pada tanaman kangkung tanpa pemberian pupuk tinggi tanaman rata-rata 19,22  cm dan jumlah helai daun 16  helai , pada tanaman kangkung dengan pemberian pupuk 3 kg , tinggi tanaman  22,31cm dan jumlah daun 25 helai, pada pemberian pupuk 6 kg tinggi tanaman mencapai 29 cm dan jumlah daun 28 helai   , pada pemberian pupuk 9 kg , tinggi tanaman mencapai 37,25 cm dan jumlah daun 28 helai  , untuk pemberian pupuk 12 kg tinggi daun 20,87 cm dan jumlah daun 26 helai , dan untuk pemberian 15 kg tinggi tanaman rata-rata 28,5 cm dan jumlah daun 27 helai. Dari data diatas kita dapat melihat bahwa pada perlakuan 9 kg pupuk kandang diperoleh hasil yang optimal dilihat dari tinggi dan jumlah daun yang optimal.

Berat tanaman rata-rata  yang diperoleh dari tanaman kangkung tanpa pemberian pupuk yaitu 0,637 kg , dengan menggunakan 3 kg pupuk kandang diperoleh hasil 1,22 kg , pemberian pupuk 6 kg diperoleh hasil 1,66 kg, pemberian pupuk 9 kg diperoleh hasil 2,062 kg , pemberian 12 kg pupuk kandang diperoleh hasil 2,152 kg dan pada pemberian pupuk 15 kg diperoleh hasil 2,457 kg. Dari berat kangkung rata-rata produksi maksimal diperoleh pada pemberian pupuk 15 kg.

Dari dua aspek diatas kita dapat melihat bahwa produksi yang paling optimal yaitu pada pemberian pupuk 9 kg , hal ini terlihat dari tinggi dan jumlah daun yang di peroleh optimal, walaupun pada berat yang paling maksimal diperoleh pada pemberian pupuk 15 kg tetapi dilihat dari hasil 9 kg tidak berbeda signifikan dan dengan adanya pertimbangan biaya produksi pada pembelian pupuk kandang 9 kg dan 15 kg.

 Hasil ini diperoleh dari pengamatan hasil produksi tanaman kangkung dari berat tanaman sampel dan berat tanaman ubin. Dari perolehan hasil produksi tersebut membuktikan bahwa pemberian dosis pupuk kandang yang berbeda – beda mempengaruhi produksi tanaman kangkung. Pemberian pupuk kandang dengan dosis diatas 9 kg  dihasilkan batang tanaman kangkung yang kuat dan segar karena tanahnya subur.

Pengaruh pemberian pupuk kandang pada pembudidayaan tanaman kangkung dengan berbagai dosis sangat tampak jelas. Dengan pemberian pupuk kandang dengan dosis yang pas yaitu 3 kg, 6 kg, dan maksimal 9 kg, karena populasi hama pada dosis tersebut sedikit dan produksi hasil pertumbuhan tanaman kangkung tinggi. Diluar dosis tersebut tanaman kangkung masih dapat tumbuh, tetapi kurang maksimal. Untuk pembudidayaan tanaman kangkung sebaiknya menggunakan pupuk kandang karena lebih ramah lingkungan.

 

 

 

 

BAB V

PENUTUP

5.1 Kesimpulan

Setelah dilakukan pengamatan di lapangan dan diperoleh hasil serta pembahasan diperoleh, dapat ditarik kesimpulan, yaitu :

 

 

 

 

 

 

 

Untuk pembudidayaan tanaman kangkung sebaiknya menggunakan pupuk kandang karena lebih ramah dan didalam pupuk kandang tersbut terdapat unsur – unsur penting yang dibutuhkan tamanan selama pertumbuhannya.


BAB IPENDAHULUAN1.1 Latar BelakangKangkung merupakan salah satu tanaman